Jumat, 08 November 2013

Cewek DVD Bajakan


Ini adalah kisah tentang seorang cowok yang bernama Memed. Memed adalah cowok yang kalau bicara tak lebih dari satu kalimat. Entahlah, dia selalu merasa bahwa hidup ini musti efektif. Termasuk dalam hal bicara. Makanya saat dia berargumen masalah tugas kuliah dengan Memes, Memed selalu bicara pendek-pendek. Kontan Memes merasa jengkel, inilah yang menjadi penyebab Memed dan Memes jadi musuhan.

Permusuhan Memes dan Memed terdengar juga ke seluruh kampus. Maklum, keduanya memang aktif di organisasi kampus. Kalau Memed aktif di organisasi film, sedang Memes aktif di organisasi sosial. Mereka selalu bersaing jika ingin mengajukan proposal ke Dekan. Pokoknya persaingan kedua organisasi itu sengit banget, deh. Bahkan mereka sempat tawuran (tapi lucu, soalnya yang dilempar bukan batu, tapi kaos kaki busuk, bakwan, bahkan celana dalam yang bolong).

Pak Soegriwo, alias Dekan di kampus, berniat mendamaikan perseteruan keduanya. Bukannya damai, keduanya malah tambah ribut satu sama lain. Mereka sampai membuat garis demarkasi (garis batas gencatan senjata). Jadi bagi geng Memed tidak boleh masuk wilayah Geng Memes. Begitu juga sebaliknya. Tapi tetap saja anak buah mereka diam-diam saling melintasi garis tersebut. Kalau ketahuan, entah Memed atau Memes jadi ribut.

Suatu kali ada Festival Film Pendek, Memed pengen ikutan, sekalian membuktikan bahwa dia piawai menjadi sutradara. Tapi sayangnya Memed tidak punya kamera, satu-satunya cara agar dapat penyewaan gratis, Memed musti pinjam ke Dudung, yang tak lain ayahnya Memes. Dudung adalah sutradara layar lebar yang patah hati gara-gara filmnya banyak dibajak. Makanya dia sangat benci sama pembajakan, ironi dengan kenyataan bahwa dia jualan DVD bajakan.

Memed pun mengajak Memes untuk damai, tapi yang namanya sebel nggak akan pernah bisa diobati. Setiap Memed mengirim surat perdamaian lewat gank-nya, setiap itu pula Memes mengibarkan bendera perang dengan Memed. Akhirnya Memed turun tangan sendiri untuk menemui Memes. Dia latihan dulu supaya menghilangkan kebiasaan dia bicara satu kalimat. Makanya Memed latihan, sampai akhirnya dia bisa ngomong panjang lebar.

Memed pun menemui Memes. Sambil menangis dan meratap, Memed menjelaskan bahwa apa yang dia lakukan ini demi perfilman Indonesia. Dia tahu betul, bahwa masa depan perfilman Indonesia itu ada di tangannya. Dia ingin menjadi sutradara. Dia ingin Memes membantunya agar dia bisa dapat pinjeman kamera dari Dudung. Tapi tetap saja Memes jutek ke Memed.

Di rumah Dudung sedih, soalnya perfilman Indonesia sekarang sudah sekarat. Setiap hari yang diomongin apalagi kalau bukan Undang-Undang Perfilman dan kekesalan dia sebab Memes tidak berminat dengan dunia film. Ya, paling nggak sebagai anak orang film, terpanggil gitu kek sama dunia yang dulu pernah digeluti ayahnya. Memes bukannya seneng, malah tambah pusing. Lama-lama kepikiran juga untuk mempertemukan ayahnya dan Memed. Maksudnya supaya Dudung nggak bakalan nyampah ke telinga Memes tentang Undang-Undang Perfilman lagi.

Dipertemukanlah antara Memed dan Dudung. Memes memberi kata pengantar, bahwa Memed ini adalah aktivis perfilman di kampus. Dia sudah pernah bikin beberapa film, pokoknya pas-lah sama selera bokapnya. Memes lebay bilang, bahwa film Memed menang festival. Makanya sekarang mau bikin film pendek lagi, supaya kemampuannya terasah. Giliran Dudung nanya, boleh nggak lihat filmnya? Memed ngaku, kalau waktu itu dia menang lomba bikin poster film, jadi maaf nih, belum pernah bikin film. Megang kamera saja belum pernah.

Untung Dudung kepincut dengan Memed, sehingga Memes selamat dari ceramah tentang Undang Undang Perfilman. Dudung pun mengeluarkan kamera andalannya. Dia menyebutnya, Meriam Nyosor. Jelek-jelek gitu, kamera Dudung pernah mempopulerkan artis kayak Meriam Bellina, Lidya Kandou, bahkan yang terakhir Evie Tamala. Maklum, terakhir pefilman lagi seret, jadi Dudung cuman bisa nyari nafkah dari syuting konser dangdutan. Kamera itu mungkin ketinggalan zaman, tapi paling nggak, masih bisa merekam dan buat film. 

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar