Selasa, 24 September 2013

Ekonomi dan Ekosistem

Menarik lihat foto terbaru dari akun Presiden @SBYudhoyono. Bicara masalah pembangunan jalan tol yang mengacu kepada ekonomi dan ekosistem. 2 kata yang sebenarnya menarik, soalnya, seakan bertolak belakang antara satu dengan yang lainnya.

Dalam melakukan pembangunan suatu proyek, yang pertama kali ditanyakan adalah manfaatnya. Manfaat inilah yang nanti akan berbuah ke kepentingan publik. Yang menarik untuk ditanyakan adalah, seberapa besar manfaat yang akan kita ambil jika sebuah pembangunan terjadi?

Contoh, membangun sekolah. Gak usah ditanya juga, kita udah tahu bahwa manfaat sekolah itu apa. Tapi yang jadi pertanyaan adalah, dengan membangun sekolah, apakah bisa meningkatkan kualitas pendidikan?

Terus pembangunan Rumah Sakit. Ini juga suda jelas arahnya. Artinya demi meningkatkan kesehatan masyarakat, maka dibangunlah Rumah Sakit. Tapi memang ada prosedural yang musti dilewati, dan ini biasanya yang suka jadi masalah.

Jalan. Ini juga penting, karena meningkatkan roda perekonomian. Aktifitas perhubungan memang sangat berperan besar dalam perkembangan ekonomi suatu kota. Jangankan di Indonesia, di luar negeri saja, jalan mempunyai peranan penting bagi kemajuan ekonomi.

Tapi yang jadi masalah adalah, melihat dari kacamata ekonomi ini terkesan seperti memakai modal sekecil-kecilnya, lalu memaksimalkan keuntungan sebesar-besarnya. Ini bertolak belakang dengan keseimbangan ekosistem yang ada. Yang mengedepankan ilmu pengetahuan dalam memandang sesuatu.

Ini adalah dua hal yang sangat berbeda. Dua hal yang membicarakan kapasitas peranan manusia di alam semesta. Memang sudah kodrat manusia untuk menaklukkan alam, tapi ingat, kita ini hidup di alam semesta. Sedikit saja kita mengubah alam, akan ada dampak lain yang akan berpengaruh terhadap diri kita nantinya. Semacam butterfly effect-lah (istilah anak sekarang begini).

Bagaimana cara memecahkannya, agar kita bisa melihat dari sudut pandang ekonomi dan ekosistem? Soalnya yang seperti ini agak berat. Akan ada yang namanya perdebatan pengetahuan yang ujungnya, bisa nggak dibangun-bangun.

Satu-satunya jalan agar pembangunan itu bisa terwujud adalah, mengembalikannya ke pertanyaan awal. Seberapa kita butuh akan sebuah pembangunan? Jika memang butuh, ayo laksanakan! Jika tidak, ya mending urus yang lain saja.
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar